Rutinitas telah dianggap sebagai bagian hidup yang tak terpisahkan. Karena sudah merasa nyaman dengannya, kita terlupa bahwa sebenarnya kita bisa mendapatkan yang lebih baik.
Segala yang telah menjadi kebiasaan—positif atau negatif—dan kita bisa menerimanya, hingga kita merasa nyaman melakukannya atau nyaman berada dalam kondisi tersebut, maka itu bisa disebut sebagai zona nyaman.
Banyak orang puas dan nyaman dengan rutinitas dan kehidupan yang dijalaninya. Mereka merasa cukup dengan apa yang sudah mereka jalani walau sebenarnya mereka bisa berbuat lebih banyak dan lebih baik daripada itu.
Motivasi keluar dari zona nyaman
Perasaan nyaman pada satu kondisi memang dirasakan berbeda pada setiap orang atau kelompok. Buat kebanyakan orang, hidup dari mengemis tentu amat tak menyenangkan dan merendahkan harga diri. Namun, sebagian lain tidak demikian. “Mereka lebih nyaman hidup dari meminta-minta. Ketika banyak lembaga yang datang membantu dan ingin membina mereka jadi lebih mandiri, ternyata banyak yang tak mau. Menurut mereka lebih nyaman hidup begitu,” contoh Inna Muthmainah, konsultan psikologi reguler di EXPERD, Jakarta.
Kebiasaan itu, lanjut Inna, sulit dihilangkan karena berada di ambang bawah ketidaksadaran dia. Bahkan pikiran logis kadang tak banyak pengaruhnya pada orang yang sudah merasa nyaman itu untuk menghilangkan kebiasaannya. Berapa banyak perokok yang sebenarnya menyadari bahaya merokok bagi kesehatan, namun tak juga mau berhenti merokok?
Sering kita temui orang-orang yang sekian lama dalam profesi atau pekerjaan tertentu, tak ada perubahan. Hidupnya begitu-begitu saja, kondisi ekonominya pun pas-pasan saja, bahkan semakin kekurangan, dari tahun ke tahun. Padahal, tentu saja, tuntutan hidup semakin besar dari hari ke hari. “Semestinya mereka menyadari bahwa mereka harus meningkatkan taraf hidup karena tak cukup lagi penghasilan yang mereka dapatkan. Anak-anak sudah semakin besar dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kondisi ini sebenarnya sudah tak nyaman lagi buatnya,” papar Inna yang juga menggarap bidang Assesment Centre di Gaia Solusi, Jakarta. Dengan berpikir bahwa hidupnya sudah tak nyaman lagi, orang pun akan terpacu untuk meningkatkan dirinya.
“Sekarang mungkin seseorang merasa aman dengan gaji 5 juta rupiah. Tapi, apa cukup gaji sejumlah ini untuk biaya hidup ke depan? Maka kita harus punya tabungan yang semakin banyak karena kebutuhan semakin meningkat. Pikiran logis dan kesadaran seperti ini akan mendorong orang berbuat lebih baik, termasuk keluar dari zona nyaman dia,” terang Inna.
Selain kesadaran diri, lingkungan pun—terutama yang berkepentingan dengannya—semestinya menyadari bahwa seseorang tak seharusnya berada dalam zona nyamannya terus menerus. Pihak perusahaan, misalnya, harus melihat kondisi karyawannya. Para karyawan tak boleh selamanya dalam posisi yang sama meski mereka sudah nyaman di sana. Oleh karena itu, karyawan harus dibekali berbagai pelatihan agar mereka bisa berkembang kemampuannya dan dengan demikian bisa dipercaya untuk menempati posisi yang lebih tinggi daripada sebelumnya, tentu dengan tantangan dan tanggung jawab yang lebih besar.
Perlu disadari bahwa sesungguhnya berada dalam zona nyaman dalam jangka waktu cukup panjang itu berbahaya. Tak terjadi perubahan ke arah yang lebih baik pada seseorang karena ia tak mau bergerak untuk berubah.
Pertimbangan dan bekal yang cukup
Memang, kata Inna, tak salah bila seseorang belum mau keluar dari zona nyamannya. Bagaimanapun setiap orang itu unik dan memiliki kepribadian berbeda-beda. Tak semua orang punya kesiapan dan daya adaptasi memadai untuk melakukan perubahan dalam hidupnya.
“Tak salah memang, namun kalau sebenarnya dia punya potensi, sayang sekali untuk diabaikan,” tambah lulusan Fakultasi Psikologi Universitas Indonesia ini. Ambil contoh, ibu rumah tangga yang berlatar pendidikan tinggi, sebenarnya dia bisa berbuat lebih banyak di samping mengurus keluarganya. Dia bisa memanfaatkan ilmunya dengan berbagai hal bermanfaat buat dirinya, keluarga dan masyarakat, tanpa meninggalkan rumah. Dia pun bisa mencoba memberdayakan masyarakat di sekitarnya.
Sumber ketakutan orang dalam melakukan perubahan, salah satunya, adalah kegagalan. Mereka tak yakin bisa meraih kehidupan yang lebih baik daripada sebelumnya, malah bisa jadi mereka akan terpuruk. “Kenapa berpikir akan gagal? Kita harus optimis akan berhasil. Jangan berpikir gagal. Selama kita tetap berpikir realistis, punya modal dan tekad yang kuat, kita bisa sukses dan melampaui keberhasilan orang kebanyakan,” ungkap Inna, memotivasi.
Perubahan dan langkah yang kita buat hendaknya juga bukan sekadar nekat. Nekat bisa berarti tanpa pertimbangan dan bekal apa pun. Jadi jangan sampai kita meninggalkan pekerjaan lama dengan harapan berhasil di bidang lain tetapi bidang tersebut sebenarnya belum dikuasainya dengan baik. Ini seumpama terjun bebas tanpa parasut. Alih-alih berhasil, malah bisa terperosok.
Pertimbangan yang logis dan realistis memang mesti jadi pegangan. Mimpi dan cita-cita harus pula diikutsertakan. Tentu dengan didukung perencanaan dan langkah konkret. Dengan persiapan seperti ini, seseorang akan lebih tekun dan sabar menghadapi tekanan-tekanan yang datang. Proses jatuh bangun akan dijalaninya dengan tegar, hingga akhirnya ia berhasil meraih mimpinya. Tentunya Allah tak akan mengabaikan setiap usaha hamba-Nya untuk berubah menuju keadaan yang lebih baik.
SUMBER : Majalah Ummi